PELATIHAN MULTIPLE INTELLIGENCES DI YPI PONPES SABILUL KHOIROT TENGARAN

Senin, 31 Mei 2010 09:48:30 - oleh : admin

Tengaran, Senin 24 Mei 2010, YPI Pondok Pesantren Sabilul Khoirot Tengaran Kabupaten Semarang mengadakan kegiatan Pelatihan Multiple Intelligences bagi para guru di yayasan tersebut. Sebanyak 79 orang guru dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (TKIT, SDIT, SMPIT) Nurul Islam tengaran mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan di aula SDIT Nurul Islam Tengaran.

Kegiatan ini dilakukan mulai dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB ini dibuka oleh Ketua YPI Ponpes Sabilul Khoirot, Muhammad Haris, S.S, M.Si. Acara yang dihadiri oleh Kepala Sekolah TKIT, Ida Nurul Farida, S.Ag; SDIT, Suminah, S.Ag, SMPIT, Nurhadi Susilo, S.Pd ini merupakan program Bidang Pendidikan Islam Terpadu (BPIT) yayasan ini. Pelatihan untuk guru merupakan program rutin tiap semester, program ini berguna untuk meningkatkan kualitas guru di YPI Ponpes Sabilul Khoirot, baik di TKIT, SDIT maupun di SMPIT, kata ketua yayasan dalam sambutannya.

Pelatihan tentang Multiple Intelligences ini disampaikan oleh Munif Chatib dari Yayasan Islam Malik ibrahim (YIMI) Gresik, Jawa Timur. Beliau adalah seorang penulis buku Sekolahnya Manusia dan salah satu tim dari Next Education Center Surabaya. Dalam ceramahnya disampaikan tentang pembelajaran dengan konsep Multiple Intelligences Research (MIR).

Dalam MIR, dituntut peran sekolah untuk dapat menggali potensi calon siswa. Untuk menemukan potensi tersebut, sebelum siswa memulai mengikuti proses belajar mengajar, sekolah melakukan multiple intelegence research. MIR berguna untuk pembagian kelas sesuai dengan kecenderungan kecerdasan siswa. ''Dalam diri siswa pasti ada kecenderungan kecerdasannya,'' kata Munif Chatib.

Di antaranya, kecerdasan linguistik, logis tematik, interpersonal, intrapersonal, musikal, kenestetis, dan visual spasial. MIR juga sebagai data guru untuk mengajar agar gaya guru mengajar sesuai gaya belajar siswa. ''Di sini guru yang menyesuaikan dengan gaya belajar siswa,'' tuturnya. Menyinggung tentang konsep Ujian Nasional (UN), pembicara tidak setuju karena tidak adil untuk standar kelulusan siswa, akan tetapi berguna hanya dalam pemetaan. humas

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya